Sabtu, 10 Maret 2012

Sang Reformis Pesantren


Tatkala Pesantren mengajarkan ilmu-ilmu agama seperti ilmu fiqih, hadis, nahwu, dll.Sebagaimana yang di terapkan oleh Pesantren Tebuireng yang notabennya menjadi salah satu kiblat Pesantren di Nusantara. Lahirlah sosok santri yang memiliki intelektualitas progresif melebihi zamanya, yaitu Wahid Hasyim.
KH. Wahid Hasyim adalah putra kelima dari pasangan KH. M. Hasyim Asy’ary dengan Nyai Nafiqah binti Kyai Ilyas. Wahid Hasyim mempunyai otak sangat cerdas.Pada usia kanak-kanak ia sudah pandai membaca al-Qur’an, dan bahkan sudah khatam al-Qur’an ketika masih berusia tujuh tahun. Wahid Hasyim tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku Hindia Belanda. Tapi Wahid Hasyim lebih banyak belajar otodidak.
Meskipun tidak sekolah di lembaga pendidikan umum milik pemerintah Hindia Belanda, pada usia 15 tahun ia sudah mengenal huruf latin dan menguasai bahasa Inggris dan Belanda. Kedua bahasa asing itu dipelajari dengan membaca majalah yang diperoleh dari dalam negeri atau kiriman dari luar negeri.
 Pada 1916, KH. Ma’sum, menantu KH. Hasyim Asy’ari, dengan dukungan Wahid Hasyim, memasukkan sistem Madrasah ke dalam sistem pendidikan pesantren. Ada tujuh jenjang kelas dan dibagi menjadi dua tingkatan. Tahun pertama dan kedua dinamakan siffir awwal dan siffir tsani, yaitu masa persiapan untuk memasuki masa lima tahun jenjang berikutnya. Pada siffir awwal dan siffir tsani diajarkan khusus bahasa Arab sebagai landasan penting pembedah khazanah ilmu pengetahuan Islam. Pada tahun 1919, kurikulum madrasah tersebut ditambah dengan pendidikan umum, seperti bahasa Indonesia (Melayu), berhitung dan Ilmu Bumi. Pada 1926, KH. Mauhammad Ilyas memasukkan pelajaran bahasa Belanda dan sejarah ke dalam kurikulum madrasah atas persetujuan KH. Hasyim Asy’ari.
Pembaharuan pendidikan Pesantren Tebuireng yang dilakukan KH. Hasyim Asy’ari, berikut murid dan puteranya, bukan tanpa halangan. Pembaharuan pendidikan yang digagasnya menimbulkan reaksi yang cukup hebat dari masyarakat dan kalangan pesantren, sehingga banyak juga orang tua santri memindahkan anak-anaknya ke pesantren lain, karena dengan pembaharuan tersebut Pesantren Tebuireng dipandang sudah terlalu modern. Reaksi tersebut tidak menyurutkan proses pembaharuan Pesantren Tebuireng. Hal tersebut terus berlangsung dan dilanjutkan oleh Wahid Hasyim dengan mendirikan madrasah modern di lingkungan pesantren.
Mendudukkan para santri dalam posisi yang sejajar, atau bahkan bila mungkin lebih tinggi, dengan kelompok lain agaknya menjadi obsesi yang tumbuh sejak usia muda. Ia tidak ingin melihat santri berkedudukan rendah dalam pergaulan masyarakat. Karena itu, sepulangnya dari menimba ilmu pengetahuan, dia berkiprah secara langsung membina pondok pesantren asuhan ayahnya.
Pertama-tama ia mencoba menerapkan model pendidikan klasikal dengan memadukan unsur ilmu agama dan ilmu-ilmu umum di pesantrennya. Ternyata uji coba tersebut dinilai berhasil. Karena itu ia kenal sebagai perintis pendidikan klasikal dan pendidikan modern di dunia pesantren.
Untuk pendidikan pondok pesantren Wahid Hasyim memberikan sumbangsih pemikirannya untuk melakukan perubahan. Banyak perubahan di dunia pesantren yang harus dilakukan. Mulai dari tujuan hingga metode pengajarannya.
Perubahan metode pengajaran di imbangi pula dengan mendirikan perpustakaan. Hal ini merupakan kemajuan luar biasa yang terjadi pada pesantren ketika itu. Dengan hal tersebut Wahid Hasyim mengharapkan terjadinya proses belajar mengajar yang dialogis. Dimana posisi guru ditempatkan bukan lagi sebagai satu-satunya sumber belajar. Pendapat guru bukanlah suatu kebenaran mutlak sehingga pendapatnya bisa dipertanyakan bahkan dibantah oleh santri (murid). Proses belajar mengajar berorientasi pada murid, sehingga potensi yang dimiliki akan terwujud dan ia akan menjadi dirinya sendiri.
Selain melakukan perubahan-perubahan tersebut Wahid Hasyim juga menganjurkan kepada para santri untuk belajar dan aktif dalam berorganisasi. Pada 1936 ia mendirikan IKPI (Ikatan Pelajar Islam). Pendirian organisasi ini bertujuan untuk mengorganisasi para pemuda yang secara langsung ia sendiri menjadi pemimpinnya.

Kuliah Lewat Twitter


Twitter, kini menjadi salah satu layanan media internet paling masyhur dan di gandrungi oleh masyarakat. Baik, kalangan orang dewasa maupun muda. Semua itu, seiring dengan kemajuan tekhnologi dan informasi yang sangat pesat. Di Indonesia sendiri, ada sekitar 22% dari 42 juta pengguna internet. Bahkan, menduduki peringkat ke lima terbesar di dunia. Apa faktor kelebihan twitter sehingga mampu menarik banyak simpatik masyarakat?
Jika kita mencermati perkembangan twiter hingga sekarang senantiasa up to date. Bahkan, beberapa fitur terbaru yang berkonsep multimedia akan segera di luncurkan. Seperti, menikmati video atau foto yang dapat dikirim bersama twit yang terdapat di ruang sisi kanan. Materi video dan foto tersebut dapat diambil beberapa situs, misal DailyBooth, DeviantART, Etsy, Flickr, Justin.TV dll. Tentunya, memanjakan bagi para penggunanya bukan?
Di negeri bernama Twitter, siapa saja bebas mengekpresikan diri. Baik bersifat mengenakan, keluhan, maupun menyebar fitnah dll. Goenawan Muhamad, sebagai penulis buku ini, mencoba mengisi statusnya di Twitter pribadinya terkait beberapa persoalan yang selalu mencuat ke permukaan publik. Ia, berusaha memberikan berbagai kritik, komentar, saran, dan tanggapan atas sajian-sajian yang di suguhkan media besar”TV”. Yang kebayakan penuh dengan berbagai aroma kurang sedap seperti, kepentingan politis. Dari mulai persoalan, politik dan demokrasi, keimanan, tokoh sejarah dll. Ia, ungkapkan di twitter pribadinya, yakni, kumpulan twiter@gm-gm.
Ia berasumsi, bahwa media kini terbatas dan hanya di kuasai oleh media besar terutama televisi. Baginya, merasa perlu untuk menyampaikan berbagai opininya ke publik lewat catatan twitter pribadinya. Goenawan Muhamad, mantan pemimpin redaksi koran tempo ini, tidak pernah absen. Padahal, hanya untuk update status. Bahkan, dalam setiap harinya ia mampu menuliskan opini 5-10 kali.
 Dari rutinitasnya tersebut, kemudian menjadi dua buah buku karyanya. Buku pertama, Pagi Dan Hal-Hal Yang Di Pungut Kembali. Kedua, Percikan Kumpulan Twitter. Buku kedua ini, mengajak kepada para pembaca untuk melihat peristiwa yang pernah mencuat di publik. Hemat penulis, tindakan Goenawan ini patut di berikan apresiasi. Di tengah kebebasan mengeluarkan pendapat dan membangun demokrasi yang lebih baik.
 Dalam buku ini, ada 13 tema yang menjadi judul opini pendeknya. Misalnya, infromasi dan media, politik dan demokrasi, bangsa dan negara, hukum dan keadilan dll. Sebagai contoh, salah satu opininya yang cukup pedas ia keluarkan dalam twitter pribadinya yakni, masalah hukum dan keadilan, Di masa maling teriak maling “orang sering dianggap maling” sebelum terbukti. Bahkan, melawan tuduhan juga di anggap tindakan permalingan.(hal,128) Tentu, apa yang di lontarkan Goenawan sangat wajar. Betapa kecewanya ia melihat supermasi hukum berjalan!
Melihat, merasakan, dan mengalami kondisi bangsanya yang tiada henti di rudung berbagai persoalan. Membuatanya, tidak bisa serta mendiamkan berbagai persoalan bangsa tanpa berbuat apa-apa. Sebagai bagaian dari putera bangsa, tentunya memunyai kewajiban untuk bersuara bukan? Menurutnya, twitter juga menjadi ajang balas jasa atas segala kemudahan yang di berikan internet tatkala mencari sumber informasi
Kuliah lewat twitter ini, Goenawan merasa bebas untuk mengeluarkan pendapatnya. Tanpa, merasa demi kepentingan kelompok maupun mencari simpatik. Independensi dapat terjaga. Bagi saya, mencermati sikap Goenawan ini ia, cukup kritis dan kreatif dalam menggunakan internet. Dan, membuat kita mengerti akan berbagai peritiwa yang telah terjadi di negeri ini.